RSS

Pertemuan 4 (Sesi 3-4) - Jumat, 19 September 2014

Disini saya akan meng-update mengenai 

pelajaran critical thinking serta deduksi-induksi. 

Semoga bermanfaat :)

CRITICAL THINKING

BERPIKIR KRITIS
  - Merasionalisasi kehidupan manusia dan secara hati2 mengamati/ memeriksa proses berpikir sebagai dasar untuk mengklarifikasi dan memperbaiki pemahaman kita tentang sesuatu (Chaffee,1990)

  -   Pemeriksaan/ pengamatan atas sesuatu asumsi tentang bukti terbaru dan mengintepretasikan dan mengevaluasi argumen dalam rangka menegakkan kesimpulan atas suatu perspektif baru  (Strader,1992)

KARAKTERISTIK BERPIKIR KRITIS
1.   Rasional, Reasonable, Reflektif
         Berdasarkan alasan2 dan bukti2; bukan atas dasar keinginan pribadi

         Pemikir kritis tidak “melompat pada kesimpulan”; buruh waktu u/ koleksi data, timbang fakta, dan pikirkan permasalahan

Contoh :
Sarah, memutuskan untuk menjadi perawat setelah menonton film yang menunjukkan perawat sebagai sso yang menarik dan heroik
Ani, yang berpikir lebih kritis, menanyakan konselor tentang pekerjaan yg tersedia sebagai seorg perawat. Ia juga berbicara dengan beberapa org perawat. Setelah memperoleh dan menimbang fakta2, ani memutuskan untuk masuk pendidikan keperawatan.

2. Melibatkan Skepticism yang Sehat dan Konstruktif
 

                 Menaati peraturan setelah berpikir panjang  dg mencari pemahaman, merasionalisasikannya, mengikuti yang masuk akal, dan bekerja untuk memperbaiki yang tidak masuk akal.

Contoh : Ketika seorang salesmen mendesak bahwa sebuah model abocath baru lebih baik daripada yang lama, Perawat Lia menanyakan :” Apa yang anda maksud dengan ‘lebih baik’? Informasi apakah yang anda miliki untuk menunjukkan/ membuktikan hal tersebut?”

3.Otonomi
             Tidak mudah dimanipulasi
      Berpikir dengan pikiran sendiri, dibandingkan diarahkan oleh anggota grupnya
      Contoh:
        Di keluarga Lin, tidak seorg pun berpendidikan tinggi. Walaupun saudara perempuannya tidak mengerti mengapa ia berupaya keras untuk kuliah, Lin berkata:”Saya sudah memikirkannya, dan hal ini adalah yang ingin saya lakukan. Saya percaya segala upaya saya akan berguna kelak”

4. Kreatif

      Menciptakan ide2 orisinal dengan cara menghubungkan pemikiran2 dan konsep
Contoh:
        Perawat Linda mengingat sebuah lagu yang dinyanyikan ibunya dulu disaat ia merasa takut, dan dengan menyanyikan lagu itu, ia mampu menenangkan anak2 yang dirawat RS

5.  Adil

      Tidak bias atau berpihak
      Contoh:
Perawat Rita, Karu, perlu membuat untuk Liburan Natal dan Tahun Baru sebelum berespon terhadap permintaan individual staf untuk libur. Ia menanyakan pada stafnya untuk menyatakan pilihannya setelah ia mampu menentukan jumlah staf yang ia butuhkan untuk kedua liburan tersebut

   6. Dapat Dipercaya dan Dilakukan

      Memutuskan tindakan yang akan dilakukan;
      Membuat observasi yang dapat dipercaya;
      Menegakkan kesimpulan secara tepat;
      Mengatasi masalah dan mengevaluasi kebijakan, tuntutan dan tindakan.

Pemikir Kritis di Psikologi akan mempraktekkan ketrampilan kognitif dalam :
  Analisa
  Aplikasi standar
  Diskriminasi
  Pencarian informasi
  Pembuatan alasan logis
  Prediksi
  Transformasi pengetahuan

5 Model Berpikir Kritis :
T      : Total Recall
H     : Habits
I      : Inquiry
N     : New ideas and Creativity
K      : Knowing how you think

1. TOTAL RECALL (PEMANGGILAN TOTAL )
   mengingat fakta/ suatu kejadian serta mengingat dimana dan bagaimana menemukannya ketika dibutuhkan kemampuan untuk mengakses pengetahuan dimana pengetahuan merupakan sesuatu yang dipelajari dan disimpan dalam pikiran. 
      •    Setiap orang punya cluster pengetahuan yang berbeda2 dlm pikirannya
     •         Total Recall tergantung pada memori/ ingatannya
     •         Memori  proses yang kompleks
a.   Jika anda selalu kesulitan dalam mengingat sesuatu

2.          HABITS (KEBIASAAN)
     

Pendekatan berpikir yang diulang2 dengan sering. Sesuatu yang “dilakukan tanpa berpikir”. Walaupun bukan dilakukan tanpa dipikir, tetapi hal tersebut telah mendarah daging sehingga terlihat seperti tidak disadari.

  Membuat sso melakukan sesuatu tanpa harus mencari metode baru

C/ Habits di kep.: RJP, ukur TTV, memasang Kateter
 pertama kali: dipelajari (bukan habit)
 setelah beberapa kali: jadi habits
  Habits lain dimana proses berpikir tidak jelas : Intuisi/ Gerakan hati
      Intuisi ~ gut level reaction ~ feeling
 dulu: dilihat sbg sst yg tdk scientific
   now: lebih diperhatikan Benner et al, 1996: melakukan penelitian pd perawat ttg pikiran2nya termasuk intuisi. Kesimpulan: menegakkan suatu alasan juga dibutuhkan intuisi

3.  Inquiry (Pencarian Informasi)
         memeriksa isu2 secara mendalam dengan menanyakan hal2 yang terlihat nyata; termasuk menggali dan menanyakan segala sesuatu – khususnya asumsi sso terhadap situasi tertentu
         Cara berpikir primer yang digunakan u/ menegakkan suatu kesimpulan.
         Walaupun kesimpulan dpt dibuat tanpa inquiry, dg inquiry hasil akan lebih baik dan akurat.
         Sebagian besar situasi di praktek kep butuh inquiry
        Jika ditegakkan berbagai kesimpulan – butuh inquiry untuk dpt yang paling akurat
              C/ Amati stuasi kep berikut:
Jam 3 pagi di suatu RS, perawat Avon melihat lampu kamar Tn. T masih menyala. Ia berjalan menemui Tn. T dan berkata:”Saya perhatikan lampu kamar bapak masih menyala. Bagaimana keadaan Bapak?” Tn. T tersenyum dan berkata: “Saya baik-baik saja” Perawat memperhatikan  bhw ada sekumpulan tisue bekas di lantai dan sprei klien berantakan. Mata klien bengkak dan merah.

  Dengan inquiry, perawat harus pertimbangkan sekurangnya 4 kesimpulan:
1.    Klien baik2 saja, dan normal terbangun pd jam sprt ini. Mungkin menggosok matanya krn alergi yg dideritanya
2.  Klien baik2 saja, tetapi tidak bisa tidur karena istirahat yang berlebih pada siang hari akibat kebosanan. Matanya selalu merah dan bengkak
3.  Klien dlm keadaan tidak baik tetapi ia tidak mau membicarakan hal ini atau tidak mau menggangu sso.
4.  Klien dalam keadaan tidak baik tetapi tidak tahu bagaimana meminta bantuan.

U/ jawaban terbaik:
butuh validasi perawat
  -Cari informasi lain sebanyak mungkin
  -Tanya klien lebih mendalam
  -Tanya support sistem
  -Observasi lingkungan sekitar

4. New Ideas and Creativity (Ide2 Baru dan Kreatifitas)

  Model ini membuat sso berpikir melebihi buku sumber
  Kreatif >< Habits
  Sso yang kreatif akan berkata:
        “Let’s try this new way”
        Sso yang habitualis akan berkata:
        “This is the way things have always been done”
  Mencoba menjadi sso yang berbeda diantara sekumpulan org yang ada.

CONTOH :
C/ Klien N, duduk di kursi roda dan tidak pernah bicara dengan siapa pun. Ia tinggal di rumah perawatan. Setiap hari kerjanya hanya mondar mandir dengan kursi rodanya. Suatu hari perawat S, berlutut didepan kursi roda klien N, memeluk klien, melakukan kontak mata dan dengan senyum yang lebar berkata:”Mari kita bernyanyi.” Tebak apa yang terjadi? Klien N menyanyi dg baiknya. Sejak saat itu ia selalu tersenyum pada perawat S dan berespon terhadap 1-2 pertanyaan. Dan kadang kala bernyanyi dengan perawat lainnya.

menjadi

Resep komunikasi terapeutik:
Not only Verbal approach!

Komunikasi termasuk menyentuh dan menyanyi.

DEDUKSI DAN INDUKSI


I. INDUKSI
  •     Penalaran induksi adalah cara kerja ilmu pengetahuan yang bertolak dari sejumlah proposisi tunggal atau partikular tertentu untuk menarik kesimpulan yang umum tertentu.
  • ž       Dengan kata lain, atas dasar fenomena, fakta atau data tertentu dirumuskan dalam proposisi tunggal tertentu, ditarik kesimpulan yang dianggal sebagai benar dan berlaku umum.
  • ž    Mengkaji atau meneliti atau mengamati beberapa fenomena dan mengumpulkan berbagai data yang kemudian dievaluasi untuk melahirkan sebuah kesimpulan umum.
  • ž     Perbedaan mendasarnya, argumentasi dalam penalaran induksi yang tepat akan mempunyai premis-premis yang benar, namun kesimpulannya dapat salah.
  • ž     Hal ini disebabkan oleh argumentasi-argumentasi dalam penalaran induksi yang tidak membuktikan bahwa kesimpulan itu benar.
  • ž       Premis hanya menetapkan bahwa kesimpulan berisi suatu kemungkinan, sebab premis hanya mengandung sebagain dari bukti atau data yang dibutuhkan kesimpulan.
  • ž     Akibatnya, argumentasi-argumentasi yang terdapat dalam penalaran induksi tidak dinilai sebagai valid (sahih) atau invalid (tidak sahih), melainkan berdasarkan probabilitas.
  • ž  Kesimpulan dari argumentasi induktif berupa pernyataan umum yang didasarkan pada premis-premis mengenai sampel-sampel khusus..
  • ž      Karena itu, argumentasi induksi akan menjadi lebih kuat apabila jumlah kasus individualnya meningkat (diperbanyak).


CIRI-CIRI PENALARAN INDUKSI
  1. Premis-premis dalam penalaran induksi merupakan proposisi empiris yang berhubungan langsung dengan observasi indera. Indera menangkap dan akal menerima.
  2. Kesimpulan dalam penalaran induksi lebih luas dari pada apa yang dinyatakan di dalam premis-premisnya. Karena itu, pikiran tidak terikat untuk menerima kebenaran kesimpulannya. Jadi menurut kaidah-kaidah logika penalaran ini tidak sahih.
  3. Meskipun kesimpulan induksi itu tidak mengikat, akan tetapi manusia yang normal akan menerimanya, kesuali apabila ada alasan untuk menolaknya. Jadi dapat dikatakan bahwa kesimpulan induksi itu memiliki kredibilitas rasional yang disebut probabilitas.
GENERALISASI INDUKTIF
  • ž  Proses induksi dapat dibedakan menjadi generasilasi induksi, analogi induktif dan hubungan sebab akibat.
  • ž  Genaralisasi induktif merupakan proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala atu sifat-sifat tertentu untuk menarik kesimpulan mengenai semua.
  • ž  Dapat dikatakan juga sebagai bentuk penalaran yang bertitik tolak dari hal-hal yang bersifat khusus atau premis ditarik kesimpulan yang bersifat umum.
  • ž  Prinsipnya adalah “ apa yang diterjadi beberapa kali dapat diharapkan akan selalu terjadi apabila kondisi yang sama terpenuhi”.
  • ž  Kesimpulan dalam generalisasi itu hanya suatu harapan, kepercayaan, karena konklusi penalaran induktif tidak mengandung nilai kebenaran yang pasti, akan tetapi hanya berupa suatu probabilitas atau peluang.


SYARAT GENERALISASI YANG HARUS DIPERHATIKAN
  1. Generasilasi tidak terbatas secara numerik. Artinya generalisasi tidak boleh terikat pada jumlah tertentu.
  2. Generalisasi tidak terbatas secara “spasio-temporal. Artinya generalisasi tidak boleh terbatas dalam ruang dan waktu. Jadi berlaku di mana saja dan kapan saja.
  3. Generalisasi harus dapat dijadikan dasar pengandaianMisalnya, ada fakta bahwa anak SMA itu berbeda dengan mahasiswa. Apabila ditemukan fakta bahwa anak SMA sering membolos, mencontek saat ujian, suka tawuran dan tidak dapat diatur. Seandainya mahasiswa mempunyai sifat yang sama, maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa itu sama dengan anak SMA.
ANALOGI INDUKTIF
  • ž  Berbicara mengenai analogi adalah berbicara mengenai dua hal yang berlainan dan dua hal yang berlainan tersebut dibandingkan.
  • ž    Dalam melakukan pembandingan ada dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu Persamaan dan Perbedan.
  •  ž  Apabila kita membandingkan dua orang hanya melihat dari aspek persamaannya tanpa melihat perbedaan, maka timbullah analogi, yaitu persamaan di antara dua hal yang berbeda.
  • ž    Analogi dalam penalaran adalah analogi induktif artinya suatu proses penalaran untuk menarik kesimpulan tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran  gejala khusus lainnya yang memiliki sifat-sifat esensial yang sama.
  • ž       Kesimpulan analogi induktif tidak bersifat universal melainkan khusus, walau benar bahwa tidak mungkin kesimpulan yang khusus dalam analogi itu terjadi kalao tidak berpikir bahwa hal itu terjadi dalam keseluruhan.

ž  Prinsip dasar penalaran analogi induktif adalah “Karena hal d analog dengan a, b, c, maka apa yang berlaku bagi a, b, dan c dapat diharapkan berlaku juga untuk d.”
ž  Perhatikan contoh:
ž  Mangga I   : kuning, besar, matang ternyata manis
ž  Mangga II  : kuning, besar, matang ternyata manis
ž  Mangga III : kuning, besar, matang ternyata manis
ž  Mangga IV : kuning, besar, matang
Kesimpulannya : mangga ke IV tentu manis juga

CONTOH LAIN :
Ani anak pak Yudi yang suka membaca, belajar dengan giat dan anak yang pintar.
Budi anak pak Yudi suka membaca, belajar dengan giat dan anak yang pintar.
Iwan anak pak Yudi suka membaca, belajar dengan giat dan anak yang pintar.
Evi anak pak Yudi.
è Kesimpulannya: Evi anak yang pintar
Analogi induktif tidak hanya menunjukkan persamaan di antara dua hal yang berbeda, tetapi juga menarik kesimpulan atas dasar persamaan.
Berbeda dengan generalisasi induktif, di mana kesimpulannya selalu berupa proposisi universal, kesimpulan analogi induktif tidak selalu berupa proposisi universal, melainkan tergantung dari subyek-subyek yang dibandingkan.

Subyek-subyek itu yang dapat bersifat individual, partikular maupun universal. Akan tetapi sebagai penalaran induktif, konklusinya lebih luas dari premis-premis.

FAKTOR PROBABILITAS :
 Ø  Kebenaran kesimpulan dalam logika induktif, baik itu generalisasi maupun analogi induktif bersifat tidak pasti.
 Ø  Hal ini dikarenakan kebenarannya bersifat masih kemungkinan. Artinya kebenaran kesimpulan induksi selalu terkait dengan tinggi rendahnya probabilitas.
 Ø  Probabilitas adalah keadaan pengetahuan antara kepastian dan kemungkinan.
 Ø  Misalnya, kesimpulan bahwa “semua manusia akan mati” adalah kesimpulan yang pastbenar hanya jika menunjuk pada mereka yang telah mati.

  • ž  Faktor fakta berkenaan dengan prinsip “semakin besar jumlah fakta yang dijadikan dasar penalaran induktif, akan semakin tinggi pula probabilitas konklusinya, dan sebaliknya
  • ž  Fakta analogi berkenaan dengan prinsip “Semakin besar jumlah faktor analogi di dalam premis, akan semakin rendah probabilitas konklusinya dan sebaliknya. Yang dimaksud dalam hal ini adalah faktor kesamaan.
  • ž  Fakta disanologi terkait dengan prinsip “semkian besar faktor disanologi di dalam premis, akan semakin tinggi probabilitas konklusinya dan sebaliknya”. Yang dimaksud dengan faktor disanologi adalah faktor ketidaksamaan.
  • ž  Faktor luas konklusi terkait prinsip “Semakin luas konklusinya, semakin rendah probabilitasnya dan sebaliknya”.

KESESATAN GENERALISASI/ANALOGI
  • ž  Ketidaksesuaian dengan kaidah-kaidah penelaran akan membuat dan membawa manusia mengalamai kesesatan (fallacy)


Ada beberapa faktor yang menyebabkan kesesatan dalam penalaran induktif, yaitu:
  1. Faktor Tergesa-gesa
  2. Faktor ceroboh
  3. Faktor prasangka
HUBUNGAN SEBAB AKIBAT :
  • ž  Prinsip umum berhubungan sebab akibat menyatakan bahwa “suatu pristiwa disebabkan oleh sesuatu
  • ž  Hubungan sebab akibat sebenarnya merupakan suatu hubungan yang intrinsik atau hubungan yang asasi dalam pengertian hubungan yang sedemikian rupa sehingga apabila satu (sebab) ada / tiada maka yang lain juga pasti ada / tiada.
  • ž  Hubungan sebab akibat antara peristiwa-peristiwa dapat terjadi dalam tiga pola, yaitu:

ž  Pola dari sebab ke akibat
ž  Pola dari akibat ke sebab
ž  Pola dari akibat ke akibat.



APA ITU LOGIKA/PENALARAN INDUKTIF ?
       Logika/Penalaran induktif = cara kerja ilmu pengetahuan yg bertolak dr sejumlah proposisi tunggal/partikular tertentu utk menarik kesimpulan umum tertentu.
       Atas dasar fakta dirumuskan kesimpulan umum.
       Kesimpulan itu = generalisasi fakta yg memperlihatkan kesamaan.
       Persamaan penalaran induktif dg deduktif = argumentasi keduanya terdiri dr premis2 yg mendukung kesimpulan.
       Perbedaan: penalaran induksi yg tepat akan punya premis2 benar tapi kesimpulan salah, krn argumentasi penalaran induktif tdk membuktikan kesimpulan benar. Premis hanya menetapkan kesimpulan berisi suatu kemungkinan.

CARA PENALARAN INDUKTIF :
       Proses induksi mulai berdasar kejadian2, gejala partikular. Penal induksi = proses penalaran berdasarkan pengertian partikular/premis utk hasilkan pengertian umum/kesimpulan.
       Tiga ciri penalaran induktif:
1) Premis penal induktif =proposisi empiris yg ditangkap indera
2) Kesimpulan dlm penalaran induksi lebih luas drpd apa yang dinyatakan dlm premis.
3) Meski kesimpulan tak mengikat, tapi manusia menerimanya.
Jadi konklusi induksi punya kredibilitas rasional=probabilitas.

GENERALISASI INDUKTIF
 Proses penalaran berdasarkan pengamatan atas gejala dg sifat tertentu utk menarik kesimpulan ttg semua.
       Prinsip: Apa yg terjadi beberapa kali dlm kondisi tertentu dpt diharapkan akan selalu terjadi bila kondisi yg sama terpenuhi.
       Tiga syarat membuat generalisasi:
1) Tdk terbatas scr numerik, tdk boleh terikat pd jumlah tertentu
2) Tdk terbatas scr spasio temporal, hrs berlaku dimana saja.
3) Dpt dijadikan dasar pengandaian.

MANFAAT BELAJAR PENALARAN INDUKSI
       B. Russel: logika induktif bukan hanya lebih bermanfaat dr logika deduktif, tp juga lebih sulit.
       Manfaat logika induktif: MEMBERIKAN PEMBENARAN ATAS KECENDERUNGAN manusia yg bersandar pd kebiasaan.

II. DEDUKSI 

  •  Sebagaimana yang telah diungkapkan bahwa penalaran dibedakan menjadi dua, yaitu tidak langsung dan langsung.
  • ž    Penalaran tidak langsung mencakup penalaran deduktif dan induktif.
  • ž  Penalaran deduktif ini selalu diungkapkan dalam bentuk silogisme.
  • ž Dengan kata lain silogismelah yang menjadi medium pengungkapkan penalaran deduktif.


ž Sumber : Slide Power Point Pak MAW dan Pak CS

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

6 komentar:

Khansa mengatakan...

Wah gambarnya bagus. Patut di jadiin contoh ni.
90 buat lu {}

Unknown mengatakan...

Christina, blog kamu lengkap banget trus rapi lagi. enak dipake buat belajar. aku kasih kamu nilai 93. Good Job :)

Unknown mengatakan...

Makasih binaarr :)

Unknown mengatakan...

Makasih cynthiaa :)

Unknown mengatakan...

wohoo. lengkapp bangettt tiiiinnn... 90 untuk kamuu

Unknown mengatakan...

Thankss siscaaa wehehe :D

Posting Komentar