SESI 1-2
Haloo... Saya disini akan memberikan artikel mengenai pelajaran filsafat pada hari Jumat, 19 September 2014 tentang subjektivisme dan objektivisme serta konfirmasi, inferensi, dan kontruksi teori. Selamat membaca! :)
SUBJEKTIVISME DAN OBJEKTIVISME
I.
SUBJEKTIVISME
![]() |
| Aristoteles |
Ø
Pengetahuan dipahami sbg keyakinan yang dianut oleh individu.
Ø
Dari pangkal pandangan individu, pengetahuan dipahami
sebagai seperangkat keyakinan khusus yang dianut oleh para individu.
Ø
Pendukung pandangan ini adalah:
- Aristoteles, Plato,
Rene Descartes
- Kaum Solipsisme (solo ipse)
![]() |
| Plato |
- Kaum Realisme
Epistemologis
- Kaum Idealisme
Epistemologis
![]() |
| Rene Descartes |
CIRI-CIRI PENDEKATAN SUBJEKTIVISME :
q Menggagas pengetahuan sbg suatu keadaan
mental yang khusus (semacam kepercayaan yang istimewa),misalnya sejarah,
kepercayaan2 yg lain, dst.
q Pengalaman
subyektif (kokoh terjamin) sbg titik tolak pengetahuan dari data
inderawi (intuisi) diri sendiri.
q Prinsip
subyektif tentang alasan cukup, karena pengalamanan bersifat personal, benar
secara pasti dan meyakinkan karena berlaku sebagai pengetahuan langsung dari
diri subyek
MENURUT DESCARTES :
• Cogito ergo sum cogitans: saya berpikir maka saya adalah pengada yang berpikir.
• Ketika
Descartes berbicara mengenai “berpikir”,
ia tidak bermaksud secara eksklusif pd penalaran saja, tetapi melihat,
mendengar, merasa, senang atau sakit, kehendak (seluruh kegiatan sadar) masuk
dalam kegiatan “berpikir”.
MENURUT REALISME EPISTEMOLOGIS
:
• Realisme
Epistemologis: berpendapat bahwa kesadaran menghubungkan saya dengan “apa yg lain” dari diri
saya.
• Idealisme
Epistemologis: berpendapat bahwa setiap tindakan mengetahui berakhir
di dlm suatu ide, yg merupakan suatu peristiwa subyektif murni.
• Banyak filsuf sesudah Descartes
mengandaikan bahwa satu-satunya hal yg dapat kita ketahui dengan pasti adalah diri
kita sendiri dan kegiatan sadar kita.
• Pengetahuan ttg diri sendiri merupakan
pengetahuan langsung.
• Semua pengetahuan ttg sesuatu “yang
bukan aku” atau “yang
diluar diri sendiri”
diragukan kepastian kebenarannya.
• Pengetahuan ttg “yang bukan aku” merupakan pengetahuan tidak langsung.
Bagaimana orang dapat keluar dari
pikirannya sendiri dan mengetahui dunia obyektif di luar diri?
Bagaimana kita ketahui apakah gagasan tentang obyek sesuai dengan obyeknya itu sendiri
dan bukan ilusi kita sendiri?
• Descartes menolak skeptisme yang membawanya justru ke arah subyektivisme.
• Sikap dasar skeptisisme adalah kita tidak pernah tahu tentang apa
pun.
• Menurut penganut skeptisisme mustahil manusia mencapai pengetahuan tttg
sesuatu, atau paling kurang manusia tidak pernah merasa yakin apakah dirinya dapat mencapai pengetahuan
tertentu.
• Skeptisisme meragu-ragukan kemungkinan
bahwa manusia bisa mengetahui sesuatu krn tidak ada bukti yang cukup bhw
manusia benar2 tahu ttg sesuatu.
DESCARTES :
• Descartes seorang rasionalis.
• Baginya rasio atau pikiran adalah
satu-satunya sumber dan jaminan kebenaran pengetahuan.
• Descartes meragukan pengalaman inderawi
dalam menjamin kebenaran pengetahuan, termasuk pengetahuan ttg dunia luar kita.
• Menurut Descartes bahwa Tuhan Yang Maha
Kuasa dapat saja secara langsung memunculkan data-data indra dalam kesadaran kita tanpa harus ada “dunia
luar” yang mendasarinya.
• Indera dapat memberikan pengetahuan tentang dunia fisik yang dapat
dipercayai
• Kebenaran bukan karena indera sendiri dapat
diandalkan, tetapi hanya berdasarkan keyakinan Tuhan yang menciptakan indera
pada manusia yang tdk mungkin menipu.
• Kenyataan bukti bagi keyakinan nalar akan
adanya dunia luar atau “yang bukan aku” tidak kurang meyakinkan dibandingkan
bukti yang tersedia bagi kenyataan adanya subyek atau “aku”.
• Descartes ke dalam posisi ekstrim yang disebut
Solipsisme. (bhasa Latin gabunga antara Solus dan ipse yang berarti “ia
sendiri pada dirinya”
• Keberadaan atau pengetahuan mengenai “yang
lain” atau “yang bukan diri sendiri” hanya dapat disimpulkan secara tidak
langsung dari kebenaran dan pengetahuan mengenai diri sendiri.
SUBJEKTIVISME
• Keberadaan sesuatu di luar diri atau “yang
bukan aku” dalam pengalaman sehari-hari misalnya menjadi jelas dari gejala bahasa.
• Kenyataan adanya bahasa selalu mengandaikan
bahwa adanya pribadi atau subyek lain selain dirinya sendiri.
• Berkaitan dengan gejala bahasa bahwa
melalui pengalaman sehari-hari terjadinya dilaog, yang mengandaikan adanya
orang lain.
• Dalam kesleuruhan proses dialog keberadaan
diandaikan adanya subyek lain atau “yang bukan aku” atau dia yang menjadi lawan
bicara ku.
• Orang tidak akan mempunyai kesadaran eksplisit ttg
dirinya sebagai individu selain melalui interaksi dengan individu lain lain
atau “yang bukan aku”.
• Kesadaran akan diri sendiri bukan suatu
intuisi langsung ttg diri dalam gagasan yang terpilah-pilah sebagaimana yang
dipahami Descartes dan
merupakan hasil dari suatu proses bertahap melalui pengalaman pergulatan dengan
dunia luar.
• Dalam kenyataan hidup diri sebagai subyek
yang bukan hanya berfungsi sebagai penahu (knower), tetapi juga sebagai
pelaku (agen) tidak bisa mengandaikan adanya “yang lain” baik sebagai
obyek pengetahuan dan kegiatannya maupun sebagai sesama subyek dalam
dialog.
II.
OBJEKTIVISME
Ø
Obyektivisme
merupakan pandangan bahwa obyek yang kita persepsikan melalui perantara indera
kita itu ada dan bebas dari kesadaran manusia.
Ø
Objektivisme
ini beranggapan pada tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya.
Ø
Objektivisme
diartikan sebagai pandangan yang menganggap bahwa segala sesuatu yang difahami
adalah tidak tergantung pada orang yang memahami.
Ada 3 pandangan dasar Objektivisme:
- Kebenaran itu independen terlepas dari
pandang subjektif,
- Kebenaran itu datang dari bukti
faktual,
- Kebenaran hanya bisa didasari dari
pengalaman inderawi.
Pandangan
ini sangat dekat dengan positivisme dan empirisme.
Pengetahuan dalam pengertian Objektivisme:
• sepenuhnya independen dari klaim seseorang
untuk mengetahuinya ;
• Pengetahuan itu terlepas dari keyakinan seseorang atau
kecenderungan untuk menyetujuinya atau memakainya untuk bertindak.
• Pengetahuan dalam pengertian obyektivis adalah pengetahuan tanpa orang: ia
adalah pengetahuan tanpa diketahui subjek.” (Karl R. Popper)
• Obyek itu bersifat “umum” dalam arti bahwa obyek
yang sama dapat dipersepsikan oleh
pengamat yang jumlahnya tidak terbatas.
• Obyek-obyek itu bersifat permanen, baik untuk dipersepsikan atau pun tidak.
• Obyek-obyek memiliki kualitas-kualitas yang
sama seperti yang disajikan kepada persepsi, sehingga tindakan persepsi tidak
mengubah sedikit pun obyek.
• Para
filsuf Skolastik
mengangap perlu untuk
memperbaiki beberapa keyakinan harian kita, yaitu: meletakkan “kesalahan” pada indera, karena
indera tidak pernah salah.
Untuk mempercayai kebenaran
kesaksian inderawi, beberapa
syarat harus dipenuhi:
a.
Obyek harus sesuai dengan jenis indera kita. Warna-warna infra merah
tidak cocok bagi indera kita.
b. Organ indera harus normal dan sehat.
Misalnya buta, tuli, atau buta warna. Tidak dapat melakukan penginderaan secara
obyektif.
c.
Karena obyek ditangkap melalui medium, maka medium itu harus ada.
Misalnya, warna akan ditangkat idera dengan tepat apabila di bawah sinar
matahari dari pada di bawah sinar merah yang digunakan untuk mencetak foto.
Perbedaan antara obyek
khusus dan obyek umum.
v Obyek khusus merupakan data yang ditangkap hanya oleh
satu indera. Misalnya, warna, suara, bau.
v Obyek umum merupakan data yang dapat ditangkap oleh lebih dari satu indera. Misalnya
keluasan dan gerakan yang dapat dilhat dan diraba atau oleh indera lainnya.
Kesimpulan : Keyakinan tidaklah selalu obyektif dalam hubungannya
dengan kesadaran pertimbangan, tetapi obyek-obyek konseptual benar-benar
bersifat obyektif. Masalah persepsi tetap merupakan
masalah yang paling besar yang tidak terpecahkan di dalam keseluruhan epistemologi.
KONFIRMASI,
INFERENSI & KONSTRUKSI TEORI
KONFIRMASI
• Etimologi: Confirmation (Inggris) =
penegasan, memperkuat.
• Berhubungan dg filsafat ilmu, maka fungsi
ilmu pengetahuan adalah menjelaskan, menegaskan, memperkuat apa yang didapat
dari kenyataan/fakta. Sifatnya lebih interpretatif dan memberi makna ttg
sesuatu.
Ada 2 aspek konfirmasi: kuantitatif dan
kualitatif
Konfirmasi Kuantitatif :
Untuk memastikan kebenaran, ilmu
pengetahuan mengemukakan konfirmasi aspek kuantitatif.
- Misalnya membuat penelitian dengan
mengumpulkan sebanyak mungkin sampel, yg akhirnya membuat suatu kesimpulan yg
bersifat umum (generalisasi).
Ada kalanya
ilmu pengetahuan membutuhkan konfirmasi kualitatif untuk menunjukkan kebenaran.
Mungkin karena konfirmasi kuantitatif tdk bs dilaksanakan, maka hrs menjalankan
konfirmasi kualitatif.
- Misalnya: dalam penelitian yang menjalankan
model wawancara mendalam (depth interview).
Konfirmasi berupaya mencari hubungan yg
normatif antara hipotesis (kesimpulan sementara) yg sudah diambil dengan
fakta-fakta (evidensi).
Mis. hipotesis: besi bila dipanaskan akan
memuai. Apakah hal ini sesuai dg fakta?
Bila sesuai, maka hipotesis meneguhkan
(konfirmasi) ilmu pengetahuan tentang besi.
3 Jenis Konfirmasi :
(1)
Decision theory: kepastian berdasarkan keputusan ‘apakah
hubungan antara hipotesis dengan fakta punya manfaat aktual?
(2)
Estimation theory: menetapkan kepastian dengan memberi peluang benar-salah melalui konsep
probabilitas. Mis. statistik.
(3) Reliability theory: menetapkan kepastian dengan mencermati stabilitas fakta/evidensi yg
berubah2 terhadap hipotesis.
Inferensi :
Kata inferensi artinya penyimpulan. Penyimpulan diartikan sebagai proses
membuat kesimpulan (conclusion). Dengan demikian, inferensi dapat
didefinisikan sebagai suatu proses penarikan konklusi dari satu atau lebih
proposisi (keputusan)
Inferensi
(penyimpulan): bertolak dari pengetahuan yang sudah dimiliki bergerak ke
pengetahuan baru.
Penyimpulan:
bisa berupa “mengakui” atau “memungkiri” suatu kesatuan antara dua pernyataan.
Jenis Inferensi :
Di dalam logika, proses penarikan konklusi
dapat dilakukan melalui dua cara.
Yakni, cara deduktif dan induktif.
Mengingat dua cara tersebut kemudian dikenal istilah inferensi deduktif dan
inferensi induktif.
Inferensi deduktif terbagi ke dalam dua
jenis. Yakni, Inferensi Langsung dan Inferensi Tidak Langsung. Inferensi Tidak
Langsung disebut juga sebagai Inferensi Silogistik.
Inferensi Langsung
Inferensi Langsung ialah penarikan
kesimpulan (konklusi) hanya dari sebuah premis (pernyataan).
Premis yaitu data, bukti, atau dasar
pemikiran yang menjamin terbentuknya kesimpulan.
Dengan demikian, kesimpulan adalah
pernyataan yang dihasilkan sesuai dengan premis-premis yang tersedia dan
berhubungan secara logis dengan pernyataan tersebut.
Konklusi yang ditarik tidaklah boleh lebih
luas dari premisnya.
Inferensi Tidak Langsung
Inferensi Tidak Langsung adalah penarikan
kesimpulan (konklusi) dengan menggunakan dua premis.
Konklusi tidaklah lebih umum dari pada
premis-premisnya.
Premis-premis merupakan proposisi-proposisi
yang digunakan untuk membuat konklusi.
Proposisi-proposisi yang menjadi
premis-premis dalam suatu silogisme disebut antesendens, sedangkan proposisi
yang menjadi konklusi disebut konsekuens.
Semua manusia adalah fana (term mayor)
|
Premis Mayor
|
|
Semua
cendekiawan adalah manusia (term minor)
|
Premis
Minor
|
|
Semua
cendekiawan adalah fana
|
Konklusi
|
Predikat konklusi disebut term mayor,
sedangkan subyek konklusi disebut term minor.
Premis yang mengandung term mayor disebut
premis mayor, sedangkan premis yang mengandung term minor disebut premis minor.
HUKUM INFERENSI:
- Kalau
premis-premis benar, maka kesimpulan
benar.
- Kalau
premis-premis salah, maka kesimpulan
dapat salah, dapat kebetulan benar.
- Bila kesimpulan salah,
maka premis-premis juga salah.
- Bila kesimpulan benar,
maka premis-premisnya dapat benar, tetapi dapat juga salah.
Konstruksi Teori
• Defenisi: teori=model/kerangka pikiran yg menjelaskan
fenomen alami/sosial tertentu.
• Teori dirumuskan, dikembangkan, dievaluasi
menurut metode alamiah.
• Defenisi lain: KBBI ->teori= pendapat yg
dikemukakan sbg keterangan ttg suatu peristiwa. Miarso->teori=‘jendela’ utk
mengamati gejala yg ada, dan berdasar data empiris berhasil dianalisis dan disintesekan.
Dua Kutub Arti Teori
Kutub 1: Teori sbg hukum eksperimental.
Mis hukum Mendel
ttg keturunan yg bisa langsung diuji lewat observasi.
Kutub 2: Teori sbg hukum yg berkwalitas
normal, spt teori relativitasnya Einstein.
Teori relativitas Einstein: Relativitas
khusus menunjukkan bahwa jika dua pengamat berada dalam kerangka acuan lembam
(lamban atau sifat materi yg menentang atau menghambat perubahan
keadaan gerak benda materi itu)
dan bergerak dengan kecepatan sama relatif terhadap pengamat lain, maka kedua
pengamat tersebut tidak dapat melakukan percobaan untuk menentukan apakah
mereka bergerak atau diam.
Bayangkan ini seperti saat Anda berada di
dalam sebuah kapal selam yang bergerak dengan kecepatan tetap.
Anda tidak akan dapat mengatakan apakah
kapal selam tengah bergerak atau diam. Teori relativitas khusus disandarkan
pada postulat (asumsi yg menjadi pangkal
dalil yg dianggap benar tanpa perlu membuktikannya; anggapan dasar; aksioma)
bahwa kecepatan cahaya akan sama terhadap semua pengamat yang berada dalam
kerangka acuan lembam.
Pengelompokan
perkembangan ilmu pengetahuan dalam 3 periode:
(1)
Animisme: fase percaya pd mitos.
(2)
Ilmu empiris: tolok ukur ilmu paling sederhana adalah (a) pengalaman.
(b) klasifikasi: prosedur paling dasar utk mengubah data. (c) penemuan
hubungan-hubungan, (d) perkiraan kabenaran.
(3)
Ilmu teoretis: gejala yg ditemukan dlm ilmu empiris diterangkan dg
kerangka pemikiran.
Sekian, semoga bermanfaat untuk teman-teman sekalian :)
Sumber : Slide Power Point dari Pak CS dan Pak MAW









10 komentar:
Halo tina...blognya bagus, ada gambarnya tapi mungkin karena aku liat dari hp kesannya kayak sedikit berantakan...nilainya 88
wow christina blognya bagus bangettt, kreatif! postingannya juga lengkap! nilainya 95 yahh
Blognya bener-bener menarik banget. 85 buat kamu :)
bagussssssss :D 90 nilainyaaa
Makasih stellaaa masukannya :)
Makasih dessy hehe :)
Makasih vaniaaa :)
Thankss sifaa :*
bermanfaat kok tin hehehe. 88 untuk kamuuu
Makasihh siscaa hehe :)
Posting Komentar