RSS

Peran Musik Terhadap Anak di Bawah Usia Lima Tahun: Efek Psikologis, Efek Emosional, serta Kecerdasan Otak

Pengantar
     Musik kini telah menjadi suatu kebutuhan karena merupakan sebuah sarana untuk mengekspresikan diri. Maka tidaklah heran apabila musik disukai oleh siapa saja, termasuk anak-anak. Berbagai karya sastra dan laporan penelitian tentang peran musik terhadap perkembangan psikologis anak membuat orangtua semakin menyadari manfaat pendidikan musik bagi anak-anaknya. Musik merupakan faktor yang mempengaruhi proses perkembangan kognisi, mental, sosial, emosi, dan dapat menstimulus pikiran. Anak yang mendengarkan musik akan terinspirasi untuk menyanyi, sehingga kemampuan mengapresiasi musik terlatih dan mendapat manfaat positif.
Pengertian Musik
     Pengertian musik menurut Aristoteles. “Musik mempunyai kemampuan mendamaikan hati yang gundah, mempunyai terapi kreatif dan menumbuhkan jiwa patriotisme, serta sebagai bahasa nurani yang menghubungkan pemahaman dan pengertian antar manusia pada sudut-sudut ruang dan waktu dimanapun kita berada” (Rasyid, 2010, h. 13).
     Pengertian musik menurut Monty P. Satiadarma. “Musik adalah saksi kehidupan manusia dan menikmati musik sama halnya dengan mengikuti narasi sejarah kehidupan manusia” (Satiadarma, 2002, h. 12).
     Pengertian musik menurut Damasio. “Music means different things to different people, and what is music to one person might be noise to another. Therefore, the actual definition of music is somewhat arbitary although it can be identified as having at least six distinct attributes” (Schneck & Berger, 2006, h. 31).
     Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan musik adalah seni yang mengalir dalam diri setiap orang yang mengandung irama, lagu, dan keharmonisan guna perkembangan kognisi, mental, sosial, emosi, dan menstimulus pikiran.
Manfaat Menstimulasi Anak Dengan Musik Sejak Dalam Kandungan
     Musik dapat mencerdaskan janin. Menurut Ortiz (2002) contoh lain yang dapat meningkatkan kemampuan seorang anak, antara lain: (a) menyanyi, anak mendapatkan rangsangan verbal untuk perkembangan bahasanya dan meningkatkan kreativitas anak; (b) mengeksplorasi sumber bunyi, anak akan lebih kaya penginderaannya atas bunyi yang dihasilkan, sekaligus belajar tentang sebab-akibat atas aksinya terhadap instrumen tersebut, dan bunyi yang terjadi; (c) rujukan ekstra musikal, membuat anak mengasosiasikannya dengan kegiatan-kegiatan tertentu dan nilai-nilai dalam kehidupan; (d) setting fisik dan atmosfer, membantu anak untuk dapat mendengarkan dan menikmati musik dengan nyaman; dan (e) penuh ide dan kreatif, dapat menstimulasi sistem pendengaran dan berpengaruh positif pada respons mereka terhadap musik.  
     Menumbuhkan kecerdasan terhadap alam. Menurut Campbell (2002) bahwa seluruh aktivitas intelektual tergantung pada suatu bagan yang disebut faktor orang tua kepada anak dalam memperkenalkan musik. Karakter musik anak sesuai dengan hakikat perkembangannya anatara lain: (a) fisik (gerak psikomotorik); (b) pikir (pola dan bentuk); (c) rasa (ungkapan); dan (d) minat (hal menarik).
     Mengekspresikan kreativitas anak. “Kreativitas anak adalah aktivitas kognitif yang menghasilkan cara pandang baru terhadap suatu masalah atau situasi” (Csikszentmihalyi, dikutip dalam Rasyid, 2010, h. 103). Menurut Nursisto dikutip dalam Rasyid (2010) terdapat beberapa komponen pokok dalam kreativitas yang dapat dijelaskan sebgai berikut: (a) aktivitas berpikir; (b) menemukan gagasan yang baru; dan (c) sifat baru atau orsinal.
     Meningkatkan perkembangan motorik anak. Menurut Soemiarti Padmonodewo (2000), ia menjelaskan bahwa karakteristik perkembangan anak usia dini, yaitu: (a) perkembangan jasmani,  relasi yang tetap dalam perkembangan tulang dan jaringan dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan; (b) perkembangan kognitif, anak mulai menerima berbagai rangsangan yang masih terbatas, pola pikirnya masih bersifat statsi, dan masih belum mampu untuk berpikir secara abstrak; (c) perkembangan bahasa, anak sudah mampu membuat sebuah kalimat, satu atau dua kata dalam percakapannya dengan orang lain, dan memiliki kemampuan bahasa sesuai dengan peraturan tata bahasa yang baik dan benar; dan (d) perkembangan emosi dan sosial, anak sudah mulai lepas dari orangtuanya, mampu bergerak bebas, dan berhubungan dengan lingkungan, sehingga dapat menimbulkan inisiatif pada diri anak.
Pengaruh Musik Terhadap Kehidupan Anak pada Usia di Bawah Lima Tahun
     Musik berpengaruh terhadap psikologi anak. Musik dapat mempengaruhi perkembangan IQ (Intelligent Quotien) dan EQ (Emotional Quotien). Musik yang memiliki irama dan nada teratur, dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan intelegensi seorang anak. Selain itu, meningkatkan tingkat kedisiplinan, perkembangan otak, pembentukan jiwa, karakter, bahkan raga manusia (Rasyid, 2010).
     Musik berpengaruh terhadap perkembangan otak anak. Secara psikologis musik berhubungan dengan berbagai berbagai fungsi psikis manusia seperti persepsi, abstraksi, mood, dan berbagai fungsi psikologis lainnya. Musik juga sering dianggap dapat menghindarkan orang dari perbuatan jahat. Cervantes dalam Do Quixote menegaskan "where there's music there can be no evil".  Di sini musik jelas dipandang berpengaruh, membawa orang pada kebaikan (Campbell, 2002).
     Musik menstimulus otak kanan anak. Otak distimulus alunan musik klasik yang mengharuskan kita memikirkan langkah alunan musik klasik yang memang sulit ditebak, sehingga musisi musik klasik mempunyai kecerdasan di atas rata-rata. Penelitian lain mengungkapkan bahwa, suara ibu lebih bisa diterima dengan jelas ketimbang suara-suara lain yang berasal dari dunia luar dan musik klasik dapat merangsang otak janin, sehingga menimbulkan gerakan motorik tertentu pada janin dan bayi yang baru lahir dan janin dapat bergerak berubah-ubah sesuai besar-kecilnya volume serta jenis musiknya (Ortiz, 2002).

Jenis-Jenis Musik yang Mencerdaskan Anak
Jenis-jenis musik yang mencerdaskan anak menurut Merritt (2003) antara lain: (a) musik bertema trance, jenis musik yang mengandung ungkapan rasa ceria yang luar biasa; (b) berirama melankolis, dalam kondisi normal bisa mengurangi rasa sakit dan nyeri, sedangkan didengar saat sedih dapat mempermudah seseorang untuk menahan rasa duka; (c) bertema semangat, jenis musik yang dapat membangkitkan reaksi kuat dan cepat disertai tanggapan fisiologis; (d) bernada ceria, meningkatkan gairah hidup dan memunculkan perasaan positif; (e) musik relaksasi, meningkatkan konsentrasi dan menyeimbangkan emosi; (f) musik klasik, meningkatkan fungsi otak dan intelektual manusia secara optimal; dan (g) musik rakyat, membuat anak-anak akan semakin berpikir ke depan.
Peran Orangtua Dalam Melatih Kecerdasan Anak Melalui Musik
     Mengenali perkembangan kecerdasan anak. Sebagai orang tua mengetahui potensi yang terdapat dalam diri anak, yaitu sesuatu yang terkait dengan kecerdasan emosionalnya. Salah satu cara untuk memupuk kecerdasan tersebut adalah melalui musik. Dengan musik, anak bisa lebih mudah mengontrol dirinya, tetapi terlebih dahulu kita mengenal beberapa hal yang berkaitan dengan kecerdasan emosional anak, pola pikir, dan perilaku anak lewat sentuhan musik (Merritt, 2003).
     Mengajak anak bernyanyi tanpa iringan musik. Lingkungan menjadi peran paling penting dan utama dalam pembentukan emosional anak. Salah satunya peran penting orang tua di dalam sebuah keluarga adalah akan membentuk “produk” emosional seorang anak yang akan berpengaruh besar pada perilakunya sehari-hari (Ortiz, 2002).
     Mengajak anak bernyanyi dengan iringan musik. Musik dengan nyanyian dapat menyalurkan, mengendalikan, menimbulkan perasaan tertentu seperti rasa senang, lucu, haru, dan kagum. Hal ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan emosi dan perkembangan psikomotorik anak (Ortiz, 2002).
     Memproduksi bunyi-bunyian lewat instrumen. Tepukan tangan, hentakan kaki atau pukulan tangan pada anggota badan yang tak lain merupakan pengiring ritmik yang memberikan nuansa tertentu. Dengan memainkan instrumen anak akan mengungkapkan ekspresinya melalui alat musik tersebut (Campbell, 2002).
     Melatih gerak. Adanya aktivitas dilakukan setelah ada dorongan batin dan perasaan yang disebut dengan gerak. Aktivitas gerakan dapat timbul setelah seseorang mendengarkan lagu atau nyanyian. Sehingga terdapat istilah Music and movement yang memegang peranan penting dalam proses menumbuh-kembangkan seorang anak. Musik dapat memperkaya kehidupan rohani dan memberikan keseimbangan hidup bagi anak (Rasyid, 2010).
Simpulan
     Musik adalah seni yang mengandung tempo, irama, lagu, dan keharmonisan yang dapat mengembangkan kognisi, mental, sosial, emosi, dan menstimulus pikiran anak pada usia di bawah lima tahun. Musik dapat mempengaruhi emosi, kecerdasan intelektual, pengaruh psikologis anak, serta melatih otak kanan. Dianjurkan untuk menstimulasi anak dengan musik sejak dalam kandungan yang dapat membantu perkembangan kreativitas anak, perkembangan motorik, serta kecerdasan terhadap alam sekitar. Jenis musik juga berpengaruh pada perkembangan anak dan perkembangan intelektualnya sebab jenis musik memiliki makna dan memberikan efek bagi tiap individu. Irama, melodi dan frekuensi tinggi dari komposisi musik klasik merangsang dan menguatkan wilayah kreatif dan motivasi di otak, sehingga orangtua sangat berperan dalam melatih kecerdasan anak melalui musik.

DAFTAR PUSTAKA
Campbell, D. (2002). Efek mozart: Memanfaatkan kekuatan musik untuk mempertajam pikiran, meningkatkan pikiran, meningkatkan kreativitas, dan menyehatkan tubuh. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.  
Merritt, S. (2003). Simfoni otak: 39 aktivitas musik yang merangsang IQ, EQ, SQ, untuk membangkitkan kreativitas dan imajinasi. Bandung: Kaifa.
Ortiz, J. M. (2002). Menumbuhkan anak-anak yang bahagia, cerdas, dan percaya diri dengan musik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Padmonodewo, S. (2000). Pendidikan anak pra sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.
Rasyid, F. (2010). Dalam M. Sukma (Ed.), Cerdaskan anakmu dengan musik. Jogjakarta: DIVA Press.
Satiadarma, M. P. (2002). Terapi musik. Jakarta: Milenia Populer.

Schneck, D. J., & Berger, D. S. (2006). The music effect: Music physiology and clinical applications. Philadelphia, PA: Jessica Kingsley Publishers.

Oleh:
Christina Giovany
705140170
Kelas C

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kekerasan Seksual pada Perempuan

Pengertian Kekerasan Seksual

     Pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Istilah “kekerasan” berasal dari kata “keras” yang berarti kuat, padat dan tidak mudah hancur, sedangkan bila diberi imbuhan “ke” maka akan menjadi kata “kekerasan” yang berarti: (1) perihal/sifat keras, (2) paksaan, dan (3) suatu perbuatan yang menimbulkan kerusakan fisik atau non fisik/psikis pada orang lain (Salim, 1991).    
     Pengertian menurut deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kekerasan seksual didefinisikan setiap perbuatan berdasarkan pembedaan berbasis gender yang berakibat atau mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual atau psikologis, termasuk ancaman terjadinya perbuatan tersebut, pemaksaan atau perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ruang publik maupun di dalam kehidupan pribadi (Patriacia, 2010).
     Pengertian menurut Supardi dan Sudarjoen. Kekerasan seksual merupakan setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif ( Ariani, 2011).
     Maka dapat disimpulkan bahwa kekerasan seksual adalah perbuatan dengan perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual, atau psikologis.

Jenis-jenis Kejahatan Seksual
     Perkosaan. Serangan dalam bentuk pemaksaan hubungan seksual. Serangan dilakukan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau dengan mengambil kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan (Atmasasmita, 2004).
     Pelecehan seksual. Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ seksual atau seksualitas korban menggunakan main mata, ucapan bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual, colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual yang mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan (Atmasasmita, 2004).
      Eksploitasi seksual. Tindakan penyalahgunaan kekuasan yang timpang, atau penyalahgunaan kepercayaan, untuk tujuan kepuasan seksual, maupun untuk memperoleh keuntungan dalam bentuk uang, sosial, politik dan lainnya (Atmasasmita, 2004).
      Perdagangan perempuan untuk tujuan seksual. Tindakan merekrut, mengangkut, menampung, mengirim, memindahkan, atau menerima seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atas posisi rentan, penjeratan utang atau pemberian bayaran atau manfaat terhadap korban secara langsung maupun orang lain yang menguasainya dengan tujuan prostitusi ataupun eksploitasi seksual lainnya (Atmasasmita, 2004).
     Penyiksaan seksual. Tindakan khusus menyerang organ dan seksualitas anak-anak terutama perempuan, yang dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan penderitaan hebat, baik jasmani, rohani maupun tekanan psikologis (Atmasasmita, 2004).

Penyebab Kejahatan Seksual
    Penyebab utama.
    Pedofilia. Menggambarkan mereka yang dituduh atau dihukum karena melakukan tindak pelecehan seksual terhadap anak di bawah definisi empiris anak. Walaupun tidak semua pelaku seksual terhadap anak adalah pedofil dan tidak semua pedofil melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak (Nainggolan, 2010).
  Perkembangan IT. Internet dan perangkat gadget yang memungkinkan transfer atau transmisi materi porno secara cepat dan langsung ke telapak tangan dan tayangan kekerasan, seks dan pornografi melalui berbagai media telah mencuci otak masyarakat Indonesia dengan karakter iri, dengki, kekerasan, serta pornoaksi (Reid, 2004).  
  Lack of safety dan security system. Tidak benar-benar melindungi anak dan perempuan bersamaan dengan memudarnya pendidikan nilai-nilai budi pekerti dan karakter anak Indonesia serta pendidikan kesehatan reproduksi dan upaya perlindungan diri cenderung ditolak, diterjemahkan sederhana sebagai pendidikan seks dan bahkan diabaikan (Mulyana, 2012).

     Penyebab tambahan.
     Nutrisi fisik. Nutrisi fisik hormon yang terkandung dalam makanan masa kini semakin membuat individu anak, matang sebelum waktunya, yang sudah matang menjadi lebih tinggi dorongan seksualnya (Sutherland, 2003).
     Kesibukan orangtua. Gaya hidup dan kesulitan ekonomi menuntut kesibukan orang tua yang luar biasa, antara lain : double income mendorong orang tua banyak di luar rumah, sehingga anak kehilangan kesempatan belajar cara melindungi diri (Soedjono, 2013).
     Neurotransmitter. Fungsi otak manusia yang khas, neurotransmitter merupakan kapasitas luhur manusia telah membuat individu menjadi kecanduan seks, terutama pada individu di bawah 25 tahun dalam masa perkembangan mereka (Mulyana, 2011).

Dampak Kejahatan Seksual
     Gangguan Psikologis. Reaksi psikologis yang umumnya terjadi pada jangka pendek menurut Amira dan Silaen (2012) adalah sebagai berikut: (a) ketakutan yang bercampur dengan kemarahan, (b) menunjukkan sikap bermusuhan, (c) merasa malu dan bersalah, (d) harga diri yang rendah, cemas, (e) terlalu dini menunjukkan perilaku-perilaku seksual atau berperilaku seks beresiko, dan (f) gangguan perilaku (lari dari rumah atau sering bolos).
Bila pengalaman kekerasan seksual di masa kecil tidak ditangani dengan baik, maka lebih besar kemungkinan dampak jangka panjang yang akan dialami menurut Amira dan Silaen (2012) adalah: (a) kecenderungan depresi, cemas, sulit tidur, gangguan disosiasi dan harga diri yang rendah; (b) mereka yang mengalami incest dari ayah kandung atau tiri umumnya menunjukkan gangguan perilaku atau kepribadian yang lebih berat; (c) lebih besar kemungkinan mengalami kembali kekerasan seksual, termasuk perkosaan, pada masa remaja atau dewasa dibanding mereka yang tidak pernah mengalaminya di masa kecil; dan (d) kehamilan di usia remaja karena incest yang berkelanjutan atau dilakukan oleh pacar.
    Gangguan Kognitif. Seorang perempuan akan mengalami gangguan belajar dan sulit berkonsentrasi di sekolah, pekerjaan, dsb. Selain itu, adanya regresi dan perkembangannya akan mundur. Ia juga akan kehilangan rasa percaya terhadap orang lain, kepercayaan diri rendah, serta tidak mampu bersosialisasi. Bila tidak mendapat penanganan memadai, hal itu dapat menggerogoti kesehatan mental korban (Anna, 2014).
 DAFTAR PUSTAKA
Ali, M. (2001). Psikologi Remaja. Bandung: Bumi Aksara.

Gerson, W. (1977). Pengantar psychology kriminil. Jakarta: Pradnya Paramita.

Putranto, K. (2012, 21 Maret). Faktor penyebab maraknya kekerasan seksual pada anak di Indonesia. Diambil dari https://id-id.facebook.com/notes/a-kasandra-putranto/faktor-penyebab-maraknya-kekerasan-seksual-pada-anak-di-indonesia/10152431526538501.

Seller, P. V. (2011, 5 Mei). The prosecution of sexual violence in conflict: The importance of human rights as means of interpretation. Retrieved from http://www2.ohchr.org/english/issues/women/docs/Paper_Prosecution_of_Sexual_Violence.pdf.

Annisa, R. (2010, 7 November). Komnas perempuan, perempuan dalam jeratan impunitas: Pelanggaran dan penanganan, dokumentasi pelanggaran HAM perempuan. Diambil dari http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2013/12/Kekerasan-Seksual-Kenali-dan-Tangani.pdf.

Setyawan, Y. I. (2013, 15 Juni). Kejahatan dan penjahat. Diambil dari http://yosie-indra.blogspot.com/2013/08/kejahatan-dan-penjahat.html.

Fitriaswaty, D. (2013, 10 April). Memahami kekerasan: Definisi kekerasan. Diambil dari http://www.psikologmalang.com/2013/03/memahami-kekerasan-definisi-kekerasan.html.

Anna, L. K. (2014, 20 April). Kekerasan seksual tinggalkan trauma dan gangguan perkembangan. Diambil dari http://health.kompas.com/read/2014/04/16/1655408/Kekerasan.Seksual.Tinggalkan.Trauma.dan.Gangguan.Perkembangan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pertemuan 8 - Jumat, 26 September 2014

Apakah afektivitas itu? Lalu, Determinisme itu apa? Mari kita cari tahu!

Kekayaan dan kompleksitas afektivitas manusia
 o   Yg membedakan manusia dengan tumbuhan: afektivitasnya.

 o   Afektivitaslah yg membuat manusia ‘berada’ di dunia, berpartisipasi dg org lain. Afektifitaslah yg mendorong org untuk mencintai, mengabdi dan menjadi kreatif.

Bagaimana disposisi afektif dasariah si subyek terhadap objeknya?
Seluruh kehidupan afektif berputar pd dua kutub yg bertentangan satu sama lain: mengarah pd obyek krn menyukainya, atau berpaling drnya krn menganggapnya buruk.
Cinta = buah afektivitas positif,
Benci= buah afektivitas negatif.
Sebenarnya cintalah yg paling dasariah.

Sikap mana yg diambil afektivitas berhadapan dengan objek?
Terhadap obyek yg dianggap berguna subyek mencintainya. Ini disebut cinta utilitaris/bermanfaat.

Bagaimana sikap subyek dpt ditentukan secara afektif oleh obyeknya?
Dibedakan ‘perasaan’ dan ‘emosi’. Kehidupan afektif memperlihatkan macam2 cara yg berbeda2 menurut bgm subyek menguasai obyek. Keadaan afektif yg berbeda2 ini disebut ‘hasrat-hasrat jiwa’ (Thomas Aquinas).
o   Meninjau ciri khas kebenaran afektivitas yg disebut ‘suasana hati.’ Org bersuasana hati baik: bila semua kemampuan bekerja dg baik.

Apa yg bukan perbuatan afektif?
Cinta membuktikan diri dlm perbuatan-perbuatan. Cinta mendahului perbuatan-perbuatan. Kerap afektivitas itu disamakan dengan kesanggupan merasa: Padahal kehidupan afektif bukan hanya menyangkut merasa saja, tapi juga menyangkut hal yg spiritual.

Apa yang merupakan perbuatan afektif?
Hidup afektif atau afektivitas=seluruh perbuatan afektif yg dilakukan subyek sehingga subyek ditarik oleh obyek atau sebaliknya.
Perbuatan afektif beda dg ‘perbuatan mengenal’ krn perbuatan afektif itu lebih pasif, sedangkan pada ‘perbuatan mengenal’ subyek membuka diri pd obyek.

Bagaimana dengan kondisi afektivitas manusia?
Agar ada afektivitas, perlu suatu ikatan kesamaan antara subyek dan obyek perbuatan afektifnya.

Apakah kesenangan harus dicurigai?
Saya hidup dibawah ‘cara afektif’ kesenangan, bila sy sungguh bersatu dlm perasaan dan pikiran dengan apa yg baik bagi saya. Kesenangan=perasaan yg dialami subyek bila dia dihinggapi oleh keadaan berada lebih baik.

Catatan tentang cinta akan diri sendiri, sesama dan Tuhan
      Org sering menganggap cinta diri sendiri adalah egoisme, maka tidak baik. Padahal cinta akan diri sendiri dapat ditemukan pada orang yang sanggup mencintai org lain dg sungguh2.
      Jika kita mencintai Tuhan dg seluruh jiwa/hati, tdkkah itu sama dg mengasingkan diri dr diri sendiri? Tidak. Tuhan tdk melawan kita. Ia transenden dan imanen. St. Agustinus: Tuhan adalah pokok pangkal kepribadian kita masing2. Ia = dasar dlm mana semua manusia saling berkomunikasi. Makin sy mendekati org lain, makin saya mendekati Tuhan.

Sesi 2
Jiwa dan kebebasan

¡  Eksistensi jiwa dalam tubuh memampukan manusia untuk menghadirkan diri secara total di dunia dan memungkinkan manusia menentukan perbuatannya
¡  Kebebasan itu mendasar bagi manusia dan merupakan penting humanism
Sejarah manusia merupakan sejarah perjuangan kebebasan”
(Erich Fromm, The Fear of Freedom, 1960)
Artinya, kebebasan menjadi bagian tak terpisahkan dari eksistensi manusia

PANDANGAN DETERMINISME

}  Determinisme: aliran yang menolak kebebasan sebagai kenyataan hidup bagi manusia. Setiap peristiwa, termasuk tindakan dan keputusan manusia disebabkan oleh peristiwa-peristiwa lainnya.
}  Seluruh kegiatan manusia di dunia berjalan menurut keharusan yang bersifat deterministik
a.    Determinisme fisik-biologis
b.    Determinisme psikologis
c.     Determinisme sosial
d.    Determinisme teologis

Kebebasan sebagai eksistensi manusia

}  Kelemahan determinisme:
      Menyangkal sifat multidimensional dan paradoksal manusia (paradoks tidak meniadakan kebebasan juga keharusan, bukan?)
      Menyangkal bahwa manusia selalu melakukan evaluasi dan penilaian terhadap tindakannya
      Menafikan adanya tanggung jawab (tak relevan menuntut tanggung jawab atas kesalahan, bukan?)

Kebebasan sebagai bagian eksistensi manusia, apa argumennya?

}  Manusia hidup dalam “kemungkinan dapat”/berhadapan dengan pilihan berbeda bobot
}  Adanya tanggung jawab (bagaimana kehidupan berjalan teratur tanpa adanya tanggung jawab?)
}  Makna perbuatan moral ada pada kebebasan (bnd. Pandangan Immanuel Kant tentang kebebasan dan kehidupan moral)

Apa arti kebebasan?
}  Kebebasan negatif tidak ada hambatan (tidak ada paksaan, tidak ada hambatan, tidak ada halangan, tidak ada aturan). Tapi ini bukan kebebasan eksistensial
}  Pengertian khusus/kebebasan eksistensial
      Penyempurnaan diri (ingat filsafat proses Whitehead?)
      Kesanggupan memilih dan memutuskan
      Kemampuan mengungkapkan berbagai dimensi kemanusiaan (kebebasan/hak-hak dasar seperti ditegaskan Franz Magnis-Suseno)

Jenis-jenis kebebasan

}  Kebebasan horizontal (berkaitan dengan kesenangan dan kesukaan, bersifat spontan, semata pertimbangan intelektual) dan kebebasan vertikal (pilihan moral, pertimbangan tujuan, tingkatan nilai)

}  Kebebasan eksistensial (kebebasan positif, lambang martabat manusia) dan kebebasan sosial (terkait dengan orang lain, kebebasan)

}  Nilai humanistik dalam kebebasan eksistensial
a.    Melibatkan pertimbangan
b.    Mengedepankan nilai kebaikan
c.     Menghidupkan otonomi
d.    Menyertakan tanggung jawab
}  Kebebasan sosial dibatasi dalam hal fisik, psikis dan normatif

4 alasan adanya pembatasan kebebasan sosial:

1)                Menyertakan pengertian
2)                Memberi ruang bagi kebebasan eksistensial
3)                Menjamin pelaksanaan keadilan bagi masyarakat
4)                Terkait dengan hakikat manusia sebagai mahkhluk sosial

SEJARAH PERKEMBANGAN MASALAH KEBEBASAN

¢ Filsafat Yunani tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas masalah kebebasan karena…
  Adanya pandangan bahwa semua hal berada di bawah “nasib”, “kehendak mutlak” yang mengatasi manusia dan para dewasa, yang secara sadar atau tidak sadar menentukan tindakan. Jadi, tak ada pertanggungjawaban manusia atas tindakannya
  Menurut pemikiran Yunani, manusia adalah bagian alam maka harus mengikuti hukum umum yang mengaturnya
  Manusia terpengaruh oleh sejarah yang bergerak secara siklis

 ¢ Zaman abad pertengahan, masalah kebebasan dilihat dalam perspektif teosentrik

 ¢ Zaman modern, perspektif teosentrik digantikan oleh perspektif antroposentrik

 ¢ Era kontemporer (pascamodern?), kebebasan dipermasalahkan dari sudut pandang sosial


 ¢ Kebebasan dalam pemikiran Timur cenderung dilihat sebagai pembebasan dari kendala keinginan egoistik dan dari kecemasan untuk mencapai kesatuan dan pengendalian diri.

(Sumber : Slide Power Point Pak ROT dan Pak Bonar pd pertemuan 8)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS